Senin, 02 September 2013

Jalan-jalan mudik 2013

Lebaran tahun 2013 kemarin kami merencanakan untuk melakukan perjalanan mudik kembali. Seperti tahun-tahun sebelumnya mudik kali ini kami sekeluarga akan mampir ke beberapa destinasi wisata di sepanjang perjalanan mudik ke rumah kami di Madiun Jawa Timur. Setelah review dari beberapa destinasi wisata di internet akhirnya tujuan utama jalan-jalan mudik kali ini bertemakan alam pegunungan. Maka pilihan kami pun jatuh ke tempat wisata dataran tinggi dieng Wonosobo dan  dan Ketep Pass di Magelang.

Berbeda dengan tahun- tahun sebelumnya yang selalu melalui jalur pantura kali ini saya ingin mencoba jalur Selatan. Setelah persiapan seperlunya di Bandar Lampung saya dan kawan berangkat mudik menuju Purwokerto dulu untuk mengantar kawan-kawan saya yang mau mudik ke Purwokerto. Selajutnya saya balik ke Cirebon untuk menjemput keluarga saya yang stay di rumah mertua di Cirebon. Baru kemudian jalan-jalan mudik via jalur selatan di mulai.

Perjalanan sepanjang Lampung sampai tol Cikampek berjalan lancar tanpa kendala apapun baru setelah keluar dari pintu tol Sadang Purwakarta kemacetan tidak bisa saya hindari. Dari planning awal kami perjalanan Lampung-Purwokerto selama 12 jam molor menjadi 24 jam lebih karena kondisi jalan yang sangat macet di sepanjang jalur Purwakarta sampai Cirebon. Benar-benar perjalanan yang melelahkan mudik tahun ini beda dengan mudik tahun sebelumnya.

Setelah dari Purwokerto saya pulang ke Cirebon. Besok malamnya akhirnya kami pun berangkat mudik ke Madiun Jawa Timur. Selepas dari kota Cirebon pada pukul 23.00 perjalanan via jalur selatan kami tempuh melalui jalur Purwokerto lagi. Selama perjalanan di jalur selatan kami tidak menemui kendala dan lancar jaya hingga mencapai kota Wonosobo di pagi harinya. Karena baru pertama kali melalui jalur selatan membuat rasa penasaran saya bertambah karena melewati kota baru yang jarang kami lewati. Dari Purwokerto melalui Purbalingga hingga masuk Wonosobo kendala utama hanya rasa kantuk yang luar biasa yang tak henti-hentinya menyerang.
Pemandangan dari Gardu Pandang Dieng

 Setelah sempat istirahat beberapa kali akhirnya kami pun menemukan jalur menuju Dataran Tinggi Dieng dari kota Wonosobo. Sempat menemui papan peringatan yang menyebutkan ada hambatab jalan longsor menuju ke Dieng membuat kami ragu tapi setelah tanya sana-sini akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan karena untuk mobil kecil seperti Kijang LGX yang kami tumpangi masih bisa untuk melewati
daerah yang terjadi longsor.


Kiara narsis dulu di Gerbang Dieng
iPerjalanan mendaki pun dimulai jalanan aspal mulus nan sempit dan berbagai tanjakan pun kami lalui ditambah bus-bus kecil dan ketika melewati pasar membuat kemacetan tidak bisa dihindari. Untungnya hawa pegunungan nan sejuk dan pemandangan alam yang menawan membuat perjalanan semakin menyenangkan. Sepanjang kanan dan kiri jalan didominasi ladang terasiring yang ditanami berbagai sayur-sayuran. Bukit dan lembah yang hijau menambah semangat untuk menikmati keindahan alam di sekitar pegunungan Dieng ini. Tujuan pertama harus dicoba sebelum memasuki kawasan Dieng dan wajib dikunjungi adalah Gardu Pandang. Kawasan ini berupa bangunnan bertingkat dengan landscape pemandangan pegunungan yang menawan. Kami pun akhirnya memutuskan untuk berhenti di spot satu ini. Setelah beberapa kali mengambil gambar bersama anak-anak akhirnya kami melanjutkan perjalanan kembali. Spot lain yang wajib kita kunjungi sepanjang perjalanan ke Dieng adalah gapura yang bertuliskan Kawasan Dieng Plateau. Banyak wisatawan yang berhenti untuk sekedar mengambil gambar dengan latar gapura ini.

 Semakin siang kabut pun mulai turun. Hawa dingin mulai menusuk tulang beruntung kami sudah menyiapkan jaket untuk anak-anak. Tak lama kemudian sampailah kami di Kawasan Dieng. Ada 3 destinasi wajib untuk para pengunjung yang baru pertama kali mengunjungi dataran tinggi Dieng ini yaitu Pertama adalah Komplek Candi Arjuna. Kedua adalah Kawah Sikidang sedang ketiga adalah Telaga Warna. Masih banyak sebenarnya spot-spot wisata lain yang tak kalah menariknya namun untuk kali ini kami hanya prioritaskan tiga spot utama dulu karena keterbatasan waktu.

Komplek Candi Arjuna
Kunjungan pertama kami mulai dengan Komplek Candi Arjuna yang merupakan peninggalan candi Hindu tertua di tanah Jawa. Komplek Candi Arjuna terletak dihamparan luas dengan taman dan ruput hijau terbagi dalam dua barisan.Pada bangunan timur terdapat Candi Arjuna, Puntadewa, Srikandi dan Sembadra. Sedang bangunan barat hanya terdapat satu candi yaitu candi Semar. Di dalam komplek Candi Arjuna sebenarnya terdapat 19 candi namun hingga kini hanya tersisa 8 candi yang masih berdiri kokoh.Di areal komplek candi kita juga bisa mencoba berbagai kuliner khas Dieng yaitu manisan Carica, kopi Purwoceng maupun Mie Ongklok khas Dieng.

Setelah puas kami pun melanjutkan perjalanan ke spot berikutnya yaitu Kawah Sikidang. Kawah Sikidang merupakan salah satu kawah populer yang menjadi tujuan utama pengunjung Dieng. Hamparan batu cadas putih kekuningan menyambut kita begitu sampai diarea parkir. Bau belerang yang menyengat pun menusuk hidung bagi yang tidak terbiasa mungkin akan pusing. Beberapa penjual masker akan berdatangan menawarkan maskernya. Dari kejauhan tampak asap putih mengepul keluar dari mulut kawah terbesar.
Pesona kawah Sikidang dari ketinggian.
Untuk menuju kawah utama kita bisa berjalan kaki maupun menyewa motor trail dengan tarif 50rb per jam. Yang unik dari kawah Sikidang ini adalah tempatnya yang bisa berpindah-pindah. Ini terjadi bila tekanan dari magma diperut bumi mencapai puncaknya sehingga mencari celah baru untuk menjadi kawah baru lagi. Di seputar areal Kawah kita bisa membeli berbagai oleh-oleh berupa cendera mata yang terbuat dari batu belerang maupun buah-buahan khas seperti Carica, kentang merah dan lain-lain.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju spot terakhir kami yaitu Telaga Warna. Setelah mengikuti papan petunjuk arah sampailah kami di Area Telaga Warna. Sebelum masuk kawasan ini kita beli tiket masuk dulu sebesar 2000 per orang. Di kawasan ini terdapat 2 telaga yaitu Telaga Warna dan Telaga
Pengilon. Telaga Warna ini terbentuk dari bekas cekungan kawah yang sangat luas sehingga perpaduan
Pemandangan di Telaga Warna
berbagai material alam dan air ketika terkena pantulan sinar Matahari  menghasilkan warna-warni air di permukaan telaga yang sangat indah. Ada perpaduan warna biru, hijau dan kuning  yang terbias sangat menawan yang bisa berubah-ubah warnanya. Selain telaga warna dan telaga pengilon terdapat tiga gua, batu belik dan batu tulis di areal wisata ini. Salah satunya adalah gua Semar, gua Sumur dan gua Jaran. Selain keindahan alamnya berbagai cerita mistis pun menyertai keberadaan gua-gua ini. Yang pasti semua keindahan alam ini merupakan salah satu bukti kebesaran Allah SWT yang patut kita syukuri.

Karena menjelang sore kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mudik menuju Magelang. Kami berencana untuk menginap di salah satu hotel yang terdapat di kota gethuk ini. Perjalanan dari Wonosobo menuju Magelang kami tempuh selama 4-5 jam. Sebelumnya sempat buka puasa di Rumah Joglo yang terkenal dengan ikan Gurame bakar madunya di daerah Temanggung untuk mengisi perut kami. Sampai di kota Magelang sekitar pukul 8 akhirnya kamipun memutuskan untuk menginap di Hotel Borobudur Indah yang terletak di tengah kota Magelang.

Keesokkan harinya perjalanan mudik kami lanjutkan. Dari magelang kami menuju ke pertigaan Blabak untuk menuju ke kawasan Ketep Pass. Diawali dengan jalan sempit dan berlubang kami pun melaju melewati beberapa tanjakan di jalur ini. Jalan ini merupakan jalur alternatif dari Borobudur Magelang  menuju ke Selo dan keluar di Boyolali untuk melanjutkan ke kota Solo.

Mampir ke Ketep Pass Volcano Theater
Selama perjalanan kita akan disuguhi areal persawahan dan pegunungan di apit oleh puncak Merapi dan puncak Merbabu. Ketep Pass sendiri merupakan spot wisata yang berfungsi untuk stasiun pengamatan aktivitas Gunung Merapi. Di kawasan ini telah dilengkapai dengan area gardu pandang lengkap dengan teleskop pengamatan dan yang paling menarik adalah wahana Volcano Theatre yang didalamnya kita bisa menonton film mengenai meletusnya gunung Merapi yang terjadi beberapa waktu lalu. Dengan membayar 7000 per orang kita bisa menikmati film dokumentasi tentang musibah Gunung Merapi yang meletus dan keluarnya uap panas yang disebut Wedus Gembel. Dengan durasi selama 30 menit kami pun puas menikmati suasana mencekam ketika film tersebut diputar. Setelah itu kami pun memandangi puncak Merapi yang begitu kokoh diselimuti awan dan membayangkan kengerian jika peristiwa Merapi tersebut murka kembali. Namun sayangnya cuaca menjadi mendung sehingga puncak merapi pun tertutup awan tebal menyembunyikan kemegahannya.

Setelah puas kami melanjutkan perjalanan melalui jalur pegunungan Selo Boyolali dan lanjut menuju kota
Gardu pandang untuk memantau aktivitas Gn. Merapi
Solo. Dari Solo kami seperti tahun-tahun sebelumnya melalui Karanganyar untuk menuju kawasan Tawangmangu di pegunungan Lawu. Tak banyak yang kami temui disini karena sudah banyak spot wisata yang kami kunjungi sebelumnya seperti Air terjun Grojogan Sewu atau Telaga Sarangan. Tak lama kemudian kami sampai di kota Magetan dan masuk kota Madiun ketika hari menjelang malam. Sesampainya di rumah kami pun puas karena perjalanan mudik kali ini benar-benar mengesankan dan tak terasa tiga kawasan pegunungan telah kami lewati dengan segala keunikannya. Nantikan perjalanan kami berikutnya yang tak kalah menarik dengan perjalanan sebelumnya.

Jumat, 21 Juni 2013

Jejak langkah di Pulau Pahawang Kecil Lampung

Pada akhir tahun lalu saya dan beberapa teman di kantor mengadakan acara jalan-jalan ke pantai. Tempat destinasi yang akan dituju adalah pulau Pahawang di Lampung selatan. Tempat ini dipilih karena memiliki  pantai pasir putih alami dan pemandangan laut yang eksotis. Pulau Pahawang Kecil merupakan salah satu gugusan pulau yang terdapat di Lampung Selatan. Di pulau ini terdapat bungalow milik pengusaha Perancis dan menurut info penjaga pulau ini termasuk areal pulau pribadi sehingga setiap pengunjung yang datang di pulau tersebut harus mengikuti beberapa aturan yang diterapkan oleh pemilik pulau tersebut salah satunya dilarang memasuki area bungalow private tersebut. Sayang ya...di negara sendiri tapi ada pulau indah yang dikuasai oleh orang asing..sedih!



Lupakan masalah pemilik pulau tadi kembali ke Pulau Pahawang untuk menuju ke pulau ini dari kota Bandar Lampung kita bisa mengendarai mobil atau motor menuju ke pelabuhan Ketapang. Jarak dari Bandar Lampung ke pelabuhan Ketapang sekitar 10 km menyusuri jalan berkelok-kelok di sekitar Teluk Betung. Sesampainya di Ketapang kita harus menghubungi nelayan setempat untuk menyewa perahu. Tarif persewaan perahu dengan kapasitas 8-10 orang sekitar 250 ribu PP. Waktu yang dibutuhkan untuk menyeberang ke pulau Pahawang sekitar 45 menit. Selama perjalanan kita akan melewati beberapa pulau kecil dengan hutan bakau yang masih lebat dan sekumpulan burung burung yang terbang mengelilingi hutan yang masih alami di pulau tersebut. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan.


Selama perjalanan di dalam perahu cukup membuat jantung berdebar.. karena ketika perahu memecah ombak air terpecah dan mengenai wajah atau tangan kita.. Berasa asin, pedih jika terkena mata.. Cukup memacu adrenalin juga sebenarnya saat berlayar di atas perahu ini ketika menerjang ombak perahu menjadi terguncang-guncang sehingga bagi yang tidak terbiasa di laut mungkin membuat pusing akibat mabuk laut. Setelah berlayar selama 45 menit sampailah kami di pulau Pahawang kecil. Pantai putih bersih menyambut kedatangan kami. Air laut yang biru dan hijau sungguh menantang untuk diselami. Dari atas perahu saja sudah kelihatan sekumpulan batu karang dan sekumpulan ikan yang berkeliaran dibawahnya. Sayang saat itu kami lupa membawa peralatan selam seperti snorkling jadi kamipun hanya terkagum-kagum dari atas perahu.

Setelah minta ijin dengan penjaga pulau saya dan teman-teman pun langsung berenang dan bermain pasir putih dan yang paling keren ketika air laut surut pulau Pahawang kecil ini akan tersambung dengan Pulau Pahawang Besar di sebelahnya sehingga kita pun bisa menyeberang ke pulau dengan jalan kaki. Banyak sekali biota laut yang bisa kita temukan di pulau ini selain jenis kerang-kerangan ada pula berbagai jenis bintang laut dan kima (Tridacna Gigas). Hati hati kalau berenang di area padang lamun (ilalang laut) karena masih ditemukan ular laut yang sedang bersembunyi di sela sela lamun. Perlu diketahui bisa ular laut ini lebih ganas dari bisa ular cobra sekalipun. 

Selain pulau Pahawang Kecil sebenarnya masih banyak pulau yang bisa kita kunjungi di sekitarnya namun karena cuaca tidak mendukung akhirnya kami putuskan untuk kembali ke Pelabuhan Ketapang dengan perahu yang sama. Begitulah pengalaman indah selama perjalanan ke Pulau Pahawang kecil masih ada pantai-pantai eksotis lainnya di wilayah  Lampung seperti Pantai Mutun dan Teluk Kiluan. Next time pastinya.



Kamis, 20 Juni 2013

My Gear for Travelling Photography

Selama travelling tentunya tidak lengkap kalau tidak ada dokumentasi selama perjalanan. Oleh karena itu untuk para traveller tentunya punya gear kamera kesayangan. Untuk keperluan dokumentasi dan berburu foto-foto eksotis selama perjalanan saya menggunakan kamera Sony NEX F3. Sebelumnya saya menggunakan kamera prosumer Fujifilm Finepix HS10. 

Saya sudah dua kali menggunakan produk kamera Fujifilm yaitu S2000HD dan HS 10. Untuk pemula kamera ini sangat cocok untuk belajar fotografi dari mode auto yang tinggal jepret sampai mode manual yang harus mikir-mikir sebelum jepret. Untk Fujifilm S2000HD sudah menemani perjalanan saya selama di Pakistan part 2 dan Thailand serta mudik edisi 2010. Sedang Finepix HS10 menemani hunting sewaktu ke Pakistan  part 3 dan di Hongkong-Macau serta mudik edisi 2012. Hasil foto dari kamera ini cukup memadai untuk hunting selama travelling karena praktis tidak perlu berganti lensa. Cuma karena merupakan kamera prosumer yang bersensor kecil pada kondisi low light atau malam hari hasilnya pas-pas an. Hal ini saya alami pada waktu jalan-jalan ke Hongkong ketika Nite photo session sewaktu di Victoria Harbour maupun Victoria Peak sangat susah sekali untuk mengunci fokus dan hasil foto yang detail. Walaupun sudah saya atur speed dan aperture bukaan besar sekalipun kadang hasilnya malah OE (over exposure). Hanya ketika untuk foto landscape pada siang hari dengan cuaca cerah hasil fotonya cukup bagus tone yang terekam lumayan indah walupun kadang mesti perlu dikoreksi level exposure dan kontrasnya. 


Sekarang saya menggunakan kamera mirorrless Sony NEX F3 dengan dua lensa kit yaitu SEL 18-55mm dan SEL 16mm. Ini juga kamera Sony kedua saya sebelumnya saya menggunakan Sony NEX 5 tapi berhubung ada buyer yang minat jadi dilego aja hehe. Mengunakan kamera Nex F3 dengan sensor besar setara kamera DSLR hasilnya tentu lebih baik daripada kamera prosumer. Dengan mudah saya bisa mengambil gambar dengan bokeh (background ngeblur) dimana dengan kamera prosumer sangat susah sekali. Selain ringan dan praktis banyak fitur-fitur yang memudahkan bagi fotografer pemula. Kelemahannya hanya pada tidak adanya fasilitas viewfinder seperti DSLR. Ini adalah konsekuensi dari sebuah kamera mirorless karena dengan tanpa cermin bentuk body bisa lebih ramping dan kompak. Kesulitannya ketika foto disiang hari layar LCD tidak bisa terlihat jelas sehingga mengganggu menemukan komposisi warna yang tepat. Tapi overall hasil jepretannya sangat memuaskan. 

Rabu, 19 Juni 2013

Jalan-jalan Mudik 2012

Setelah sekian lama absen kini saya nongol lagi di blog. Jalan-jalan ketika mudik tahun 2012 kemaren ternyata belon diposting hehe...lebih baik terlambat daripada tidak. Setelah edisi mudik 2010 sayangnya mudik edisi 2011 kami tidak plesir kemana-mana jadi selama lebaran kami habiskan di rumah Cirebon dan Madiun. Baru pada tahun 2012 kemarin saya ada kesempatan untuk melakukan perjalanan mudik lagi bersama keluarga.

Pada edisi tahun kemarin saya mudik dari lampung menuju madiun. Sepanjang perjalanan saya mencari tempat-tempat wisata yang bisa disambangi dalam perjalanan mudik. Akhirnya tujuan yang kami sepakati adalah Umbul Sidomukti di daerah ungaran dan grojogan sewu di tawangmangu Jawa tengah.


Perjalanan saya mulai dari kota Bandar Lampung tempat dimana saya ditugaskan oleh perusahaaan. Dengan mobil Kijang LGX milik kantor saya cukup pede untuk memulai perjalanan. Sebelumnya kami menggunakan mobil Toyota Great Corolla performanya cukup memuaskan tapi kapasitasnya kecil untuk keluarga hehe.


Dari Lampung saya berangkat jam 19.00 sampai Cirebon agak sore untuk jemput keluarga sekalian istirahat dirumah mertua dulu. Besok malamnya baru berangkat menuju madiun. Sampai semarang pukul 07.00 karena sempat macet saat masuk kota. Setelah lepas dari semarang barulah kami masuk kota Ungaran. Dari semarang ke ungaran kami lewat tol baru Semarang - Solo yang baru setengah jadi. Jalannya muluss abiss dengan pemandangan bukit semarang yang indah. 


Untuk menuju ke Umbul Sidomukti setelah keluar dari kota Ungaran kita belok ke kanan ke arah Bandungan. Setelah tanya sana-sini ketika sampai di pasar Jimbaran belok kanan melalui jalan desa yang cukup sempit. Melewati jalan ini harus hati-hati karena selain menanjak kondisi jalan tidak rata dan licin. Setelah sekitar 1-2 km melewati perkampungan dan persawahan sampailah kami di sumber air Umbul Sidomukti. 


Kawasan wisata umbul Sidomukti merupakan salah satu Wisata Alam Pegunungan di Semarang, berada di Desa Sidomukti Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang. Kawasan wisata ini dengan didukung fasiltas & Servis: Outbond Training, Adrenalin Games, Taman Renang Alam, Camping Ground, Pondok Wisata, Pondok Lesehan, serta Meeting Room.




Ada empat buah kolam yang bertingkat dan dapat dipilih sesuai kedalaman yang diinginkan. Airnya sangat dingin, jernih dan menyegarkan. Selain itu ditambah pula dengan beberapa sarana olahraga menantang keberanian di sisi kolam. Terdapat lintasan flying fox dengan dua pilihan track, marine bridge di lembah, rapeling menuruni lembah sisi kolam, dan ATV, kolam renang alami dan jalur trekking. Taman renang umbul alam Umbul Sidomukti terletak di lereng gunung ungaran dengan ketinggian 1200 dpl, diapit jurang dikedua sisinya.
Rasa cape dan lelah setelah jalan semalaman dari Cirebon terbayar tuntas setelah melihat kolam jernih dan bening dengan pemandangan pegunungan dan lembah yang sangat indah. Setelah ganti baju saya dan anak saya Kena dan Kiara langsung nyebur wuih bbbrrrrr...airnya dingin tapi menyegarkan. Dikolam yang terbesar terdapat sumber air yang selalu menyemburkan air jernih dan segarr. Kebetulan karena masih pagi pengunjung yang datang masih sepi jadi kami bisa berenang sepuasnya dikolam seperti kolam pribadi sendiri hehe..
Tak terasa waktu sudah beranjak siang akhirnya kami harus meneruskan perjalanan kembali ke Madiun. Setelah lelah perjalanan semalam ditambah cape berenang saya diserang ngantuk yang amat sangat akhirnya kami kembali menepi untuk memejamkan mata sebentar ditambah jalur Semarang Salatiga macet karena volume kendaraan yang sangat banyak membuat saya semakin kecapaian. 
Setelah tidur sekejap kondisi badan mulai fresh kembali perjalanan kami lanjutkan menembus kemacetan di daerah Salatiga. Kebetulan ada yang kasih petunjuk jalan alternatif melalui jalan-jalan desa cukup membantu untuk menghindari jalur utama yang sedang macet. Selepas dari salatiga perjalanan cukup lancar sampai di kota Solo. Di solo kami mencari hotel untuk istirahat  dan kami menemukan hotel di Jl. Salmet Riyadi tidak terlalu besar tapi cukup untuk sekedar istirahat semalem. Tak banyak yang kami lakukan di Solo karena kondisi jalanan yang macet rencana wisata kuliner pun terpaksa dibatalkan karena si kecil rewel. Kami cuma mencicipi bebek H.Salmet  Kartasura padahal di Cirebon pun juga ada malah lebih gurih cabang di Cirebon daripada cab di Solo ini hadeuuh.
Keesokan paginya perjalanan dilanjutkan menuju Madiun melalui jalur Tawangmangu. Jalur ini adalah jalur alternatif menuju Madiun-Surabaya selain jalur utama yang melewati Sragen-Ngawi. Selain lebih singkat pemandangan yang dilalui sangat indah karena merupakan jalur pegunungan di lereng gunung Lawu.Setelah melewati tanjakan yang cukup tinggi sampailah kami di pasar wisata Tawangmangu. tak banyak yang dilihat dipasar ini karena suasana menjelang lebaran sangat ramai sekali. Setelah melewati pasar Tawangmangu ada petunjuk ke arah Grojogan Sewu belok ke kiri. Grojogan sewu mempunyai dua pintu masuk yaitu pintu bawah dan pintu atas. Kami melalui pintu bawah karena medannya datar cukup ringan dan  cocok untuk anak-anak sedang pintu atas medannya cukup curam walaupun sudah dilengkapi tangga tapi cukup melelahkan. 
 Setelah membayar karcis masuk kami melalui jalan setapak ditengah hutan pinus. Jalan menuju ke air terjun sudah dipaving sehingga nyaman dan tidak licin. Di sepanjang jalan banyak pedagang yang jual makanan dan minuman ada pula penjual makanan khas tawangmangu yaitu sate kelinci tapi berhubung bulan puasa kami dan anak-anak tidak tergoda untuk mencicipinya. Tak lama sampailah kami di air terjun Grojogan Sewu. Pemandangan menakjubkan terhampar didepan dengan ribuan galon air seakan-akan dicurahkan dari atas tebing membentuk pancuran raksasa yang berbuih dengan deru suara yang menggelegar. Udara sejuk pegunungan dan embun yang yang semerbak disekitar air terjun menambah kenikmatan wisata alam ini.
Air terjun yang terletak 27 km arah timur kota Karanganyar ini memiliki ketinggian sekitar 80 meter. Meskipun bernama Grojogan Sewu atau air terjun seribu bukan berarti jumlah air terjunnya seribu buah. Disini terdapat satu air terjun utama dan beberapa titik air terjun lainnya. Bila ingin melihat air terjun lebih dekat, kita harus melewati bebatuan tajam dan besar. Sebenarnya untuk mendekati air terjun ini sudah ada larangan, namun banyak pengunjung yang tak menghiraukannya. Disarankan untuk tidak berenang atau berendam di bawah pancuran air terjun karena derasnya air yang jatuh bisa melukai tubuh. Fasilitas lain yang ada di kawasan ini antara lain kios cenderamata, musholla, toilet, penjual bunga abadi edelweiss, taman bermain anak, taman binatang hutan dan sarana outbound seperti flying fox dan jembatan tali juga ada disini. Selain itu ada persewaan kuda untuk berkeliling di hutan wisata ini dan ada pula fasilitas arung jeram mini menyusuri sungai kecil yang penuh batu-batu besar. Hanya dengan membayar 11.000 kita sudah bisa mengarungi derasnya sungai dari air terjun Grojogan Sewu ini. Anak saya pun tak sabar ikut mencoba arung jeram ini dan pastinya aman untuk anak-anak sekalipun.
Setelah puas bermain disekitar air terjun akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mudik kami. Hati hati selama di area air terjun Grojogan Sewu ini karena banyak monyet liar yang usil mengambil makanan maupun ba

rang-barang milik pengunjung. Anak saya yang kecil pun sampai jatuh bangun gara-gara ketakutan didekati oleh gerombolan kera yang mau mengambil botol susu anak saya. Tapi over all berwisata di Grojogan Sewu ini sungguh mengasyikkan. 
Setelah dari tawangmangu perjalanan kami lanjutkan melewati Cemoro sewu. Cemoro sewu merupakan salah satu gerbang untuk pendakian ke puncak Gunung Lawu. Disekitarnya terdapat warung-warung tenda dengan view pegunungan dan lembah lereng gunung lawu. Selain itu tak jauh dari cemoro sewu kitapun bisa menemukan tempat wisata lain yaitu Telaga Sarangan. Tapi karena kami sudah sering berkunjung kesana Telaga Sarangan hanya kita lewati dan melanjutkan perjalanan menuju kota Madiun. Tak lama kemudian sampailah kami di rumah madiun dan berlebaran dengan keluarga. Thanks ya tetap ikuti Jalan-jalan mudik tahun ini masih banyak spot tempat wisata yang akan kita kunjungi. See ya

Selasa, 26 Juni 2012

Lost in Macau

Hari kedua di Hong Kong planning saya mau menyebrang ke Macau dengan menggunakan Ferry  Turbo Jet. Dari hotel di Chungkin Mansion jalan kaki menyusuri daerah Tsim Sha Tsui saya mampir dulu di Avenue of Star. Jalan di pinggir pelabuhan Victoria ini terdapat cap telapak tangan berbagai bintang film terkenal di Hongkong. Sejarah industri film di Hongkong juga dapat kita temui disini. 
Setelah ambil gambar di beberapa spot perjalanan saya lanjutkan menuju Pelabuhan Terminal Ferry. Pelabuhan ini terletak di sebuah gedung lantai 2 bergabung dengan sebuah mall sehingga tidak nampak seperti pelabuhan pada umumnya di Indonesia. Setelah membayar HKD 360 saya menuju kapal Turbo Jet HK-Macau. Perlu diketahui bahwa Macau secara adminstratif termasuk bagian dari negara China tetapi secara kedaulatan merupakan negara bagian khusus seperti Hongkong. Sehingga untuk masuk ke Macau kita harus menggunakan pasport seperti masuk ke negara lain. \
Setelah melalui pengecekan imigrasi perjalanan saya lanjutkan menuju Macau selama 1 jam. Setelah sampai di pelabuhan Macau kita harus melalui tahap pengecekan imigrasi lagi. Sayang pada saat itu antrean orang yang mau masuk ke Macau mengular karena pintu imigrasi hanya buka sebagian. Setelah antre selama 2 jam akhirnya saya bisa keluar dari pelabuhan Macau.
Hal pertama yang saya tuju adalah mencari free shuttle bus yang akan menuju ke Grand Lisboa. Setelah ketemu bus tersebut membawa saya ke daerah Grand Lisboa yang terdapat pusat kasino terbesar di Macau. 
Untuk masuk ke kasino tidak dikenakan biaya apapun alias gratis. Seperti berada di film-film Hongkong suasana kasino yang mewah serta bodyguard berseragam orange bertebaran dimana-mana mengawasi setiap pengunjung.

Setelah jalan sebentar didalam kasino saya keluar dari area hotel Grand Lisboa. Sempat bingun karena lupa gak bawa peta Macau membuat saya nyasar kemana-mana. Cuaca panas dan bingung membuat cepat gempor dan lapar menyerang. Mau nanya belum tentu ada yg bisa bhs Inggris.
Akhirnya dengan mengandalkan feeling backpaker saya mengikuti arus lalu lalang orang dijalan. Tak dinyana akhirnya ketemu juga tempat yang saya tuju. Senado Square. Sebuah kawasan yang dikelilingi bangunan bergaya eropa peninggalan Portugis yang menjadi salah satu ikon kota Macau.

Satu destinasi telah tercapai destinasi berikutnya adalah reruntuhan bangunan katedral yang bernama St. Paul. Sebenarnya lokasinya satu kompleks dengan Senado Square tapi berhubung buta arah jadi sempet nyasar juga setelah nanya seorang turis ternyata tempatnya dibelakang Senado Square. 
St. Paul dulunya adalah sebuah gereja terbesar di Macau kemudian terjadi kebakaran besar dan hanya menyisakan bagian depan gereja yang sekarang disebut Ruins of St. Paul.

Tak terasa waktu sudah sore padahal masih dua tujuan lagi yang ingin saya temukan yaitu The Venettian dan Macau Tower. Tapi sepertinya gak keburu jadi 2 tempat lagi saya skip dari planning. Waktunya kembali ke Hongkong dengan Turbo Jet. Masih ada satu destinasi di Hongkong yang belum saya lewati yaitu The Peak yang terletak di Hongkong Island.

Setelah 1 jam perjalanan via laut akhirnya sampai juga di pelabuhan Ferry HK Island. Keluar dari pelabuhan buta arah kembali terjadi. Setelah tanya sana sini akhirnya ketemu juga bis yang menuju ke The Peak. Sesampainya di The Peak waktu sudah menjelang malam tapi gak apa yang penting bisa hunting photo di tempat tersebut. The Peak merupakan sebuah bangunan berbentuk unik yang terletak di bukit Victoria Hill. Didalamnya terdapat museum lilin Madame Tussaud. Ada juga trem yang kuno yang menuju kota tapi antreannya gila panjang banget. Setelah puas photo sana sini saya kembali ke menuju ke pelabuhan ferry via bus untuk mencari stasiun MRT terdekat.

Agak bingung juga masuk stasiun bawah tanah ala Hongkong luasnya bikin bingung walaupun papan petunjuk jalan cukup banyak. Hanya 15 menit naik MRT melewati jalur bawah tanah selat Hongkong akhirnya sampai juga di stasiun MRT terdekat dengan hotel saya.

Seperti biasa perut sudah keroncongan langsung menuju ke KFC. Menu KFC di Hongkong sedikit berbeda dengan di Indo. Ada roasted chicken yang yummy dan kue portuguise egg tart yang gurih dan nikmat. Lelah dan capek akhirnya bikin ngantuk dan tidur pulas setiba di kamar hotel.

Bangun kesiangan waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi dengan kecepatan tinggi langsung packing dan mandi karena jadwal pesawat jam 2 harus sudah ready. Setelah check out eh ketemu Bertha lagi yg juga mau check out. Dia mau pergi ke Shenzen China daratan. Setiba di perempatan jalan kita berpisah tanpa sempat bertukaran FB maupun email. Bye bertha see you next.......

Untuk menuju ke bandara bisa naik bis ataupun MRT. Sebenarnya saya mau mampir ke Stasiun Disneyland sebelum ke airport via MRT. Tapi karena bangun kesiangan disneyland saya skip daripada resiko ketinggalan pesawat. Huft banyak sekali jadwal yang harus di skip dalam perjalanan kali ini.
Sesampai di counter check in Cathay Pacific disambut rombongan TKW yang mau mudik ke Indo. Mungkin karena tampang saya kaya TKI oon ada ibu TKW yang sudah lama tinggal di Hongkong menolong menguruskan cara check in dan boarding pass di Cathay. Dia berbicara menggunakan bahasa mandarin ke CS Cathay dan menyuruh saya diam saja karena dia bakal urus semuanya. Hmm  malah nawarin nasi bungkus juga serta uang saku 15 ribu rupiah  buat jajan. Hihihi hadeehh...dia bilang "jangan pergi jauh jauh mas bareng sama kita aja nanti nyasar lho di bandara" Haduh ibu makasih deh pertolongannya tapi saya sudah hafal dengan airport HKIA ini. 
Tak lama saya sudah terbang bersama Cathay Pacific dan tiba di Surabaya dengan selamat. See you to my next travelling...


Minggu, 15 April 2012

Lost in Hongkong


Setelah lebih dari sebulan saya ditugaskan di Karachi Pakistan akhirnya waktu untuk jalan-jalan tiba juga. Berangkat dari hotel Sarai jam 8 malam dengan dianter teman baik sekaligus manager hotel Mr. Shakeel dengan mobil tuanya Suzuki Mehran sampai juga di Airport Moh. Ali Jinnah. Setelah sempat ngomel ngomel gak keruan karena ditilang polisi gara-gara dituduh melanggar lampu merah Shakeel saya traktir burger McD biar agak tenang. Seluruh sisa uang Rupee pakistan saya tukarkan dapet 100 US dollar. Lumayan buat uang jajan selama di Hongkong nanti. On board jam 00.30 waktu lokal akhirnya saya terbang dengan Cathay Pacific meninggalkan kota Karachi. Bulan di Karachi saat itu indah sekali ketika diintip dari jendela pesawat sayang gak sempat saya abadikan dengan my gear HS10.
Pukul 6 pagi saya tiba di Bandara Svarnabhumi Bangkok untuk stop over selama 2 jam. Selama menunggu saya dan penumpang lain diharuskan untuk menunggu di dalam peasawat dan dilarang untuk keluar. Sungguh membosankan. Tepat pukul 8 pagi waktu setempat saya terbang lagi menuju ke Hongkong. Jam 12.30 siang akhirnya tiba di Bandara HKIA Hongkong.
Hal pertama yang saya lakukan adalah membeli Octopus card seharga 150 dolar HK untuk kebutuhan transportasi selama di Hongkong. Kemudian keluar dari airport dengan menumpang Airport bus no A21 seharga 33 dollar HK menuju kawasan Kowloon yaitu Tsim Sam Tsui salah satu destinasi utama turis di HK.

Setelah sampai halte Tsim Sam Tsui sempet linglung juga melihat keramaian pusat kota. Setelah jalan kaki tak tentu arah dan mengandalkan insting akhirnya ketemu juga tujuan saya yaitu Gedung Chun King Mansion. Didalam gedung tersebut tersedia puluhan hotel lowbudget. Ratusan orang dari berbagai belahan dunia lalu lalang di dalam gedung tersebut tapi kebanyakan didominasi sama orang kulit hitam alias negro.

Sekali lagi dengan mengandalkan insting akhirnya ketemu juga hotel incaran saya tapi sayangnya full booked semua. Akhir pekan di HK benar benar ramai dan diluar dugaan saya kalau sampai hampir seluruh hotel penuh semua. Tak dinyana saya bertemu dengan teman senasib yaitu sama-sama gak dapet kamar hotel. Dia bernama Bertha berasal dari Honduras umurnya kurang lebih 25 tahunan. Karena senasib kami sama-sama mencari hotel dari lantai ke lantai dan sialnya lift yang ada sedang rusak. Huuft..
Dan yang lucu setiap kami tanya ke petugas hotel mereka menganggap kami adalah sepasang kekasih dan diberi satu kamar untuk berdua. Weew..aseekk. Dari lantai 14 sampai lantai 7 belum dapat kamar juga akhirnya saya ketemu hotel yang bernama London Guesthouse. setelah sempat dibilang kamarnya penuh sama mbak penjaga kami sempat putus asa juga. Tak dinyana si mbak ngobrol sama temennya dengan bahasa cirebonan. Halah setelah tau kalau saya dari Indonesia juga akhirnya dikasih juga kamar 1 untuk saya dan satu untuk bertha. Gak jadi deh sekamar sama Bertha hehe dan si embak juga baik banget nawarin indomi dan makanan malah mau nganter ke warung indonesia kalo butuh makanan indo.
Perlu diketahui kamar hotel di HK rata-rata sangat sempit berukuran 1,5 x 3 m. Cuma cukup untuk selonjor satu orang dan kamar mandi yang juga sangat sempit. Setelah mandi dan ganti baju saya cabut buat jalan menikmati suasana kota Hongkong di sore hari. Maksud hati mau ngajak ngedate malem mingguan si Bertha tapi daripada malu kalo ditolak mending cabut sendirian seperti biasanya. Kali ini tujuan tempat huntung saya adalah Victoria Harbour. Cuma jalan sekitar 500 m sampailah saya di Victoria Harbour. Tempatnya sangat cozy dan tersambung dengan Avenue of Star dan taman jam kota. Ketika malam hari di tempat tersebut digelar acara Symphony of the light yaitu pertunjukan kolosal lampu laser dan lampu gedung bertingkat yang terletak diseberang Victoria harbour. Benar-benar mengesankan buat turis backpaker seperti saya.

Setelah hunting foto sana sini ketika malam semakin larut akhirnya saya kembali ke hotel. Sempat bingun buat makan malam akhirnya saya mampir ke KFC. Lihat menu di KFC Hongkong bener-bener membuat perut semakin keroncongan. Nasi jamur dan ayam panggang serta portugis egg tart langsung disantap dengan nikmatnya. Jam 11 malem baru kembali ke kamar hotel. Rencana besoknya adalah bangun pagi-pagi dan hunting di Avenue of Star dilanjut menyeberang ke Macau dengan menggunakan Turbo jet. (to be continued)

Selasa, 01 November 2011

Lost in Pakistan Part 3


Setelah resign dari perusahaan yang lama saya pikir di perusahaan baru ini tidak akan bisa travelling ke luar negeri seperti perusahaan saya yang dahulu. Tidak dinyana ternyata perusahaan yang baru ini juga mempunyai proyek seafood yang sama di Karachi Pakistan. Akhirnya berhubung saya sudah punya pengalaman sebelumnya mau tidak mau ditunjuk juga buat bikin project di Pakistan again. Antara senang dan tidak akhirnya berangkat juga saya ke Pakistan lagi. Senang karena bisa jalan jalan lagi ke luar negeri gak senengnya karena Pakistan bukan negara yang ramah terutama yang berhubungan dengan makanan.
Yang bikin antusias kali ini saya menggunakan maskapai Cathay Pacific artinya ada kesempatan untuk stopover di Hongkong. Salah satu tempat yang belum saya kunjungi.
Kunjungan ke Pakistan untuk ketiga kalinya ini tidak ada yang istimewa buat saya. Tidak ada hal baru yang membuat jiwa travelling saya bergejolak. Hanya beberapa spot baru yang saya temukan di beberapa sudut di kota Karachi. Lainnya boring dan pengen cepet berllibur ke Hongkong. Salah satu tempat favorit saya di Karachi buat nongkrong adalah Park Tower Shopping Center salah satu mall terbesar di Karachi. Berjalan di dalam mall ini bikin membuat saya terkagum kagum melihat kecantikan para gadis gadis Pakistan yang sedang shoping. Dari face dan fisiknya benar benar sempurna terutama hidung mancung dan kulit putih bersihnya hehehe...semuanya mirip Shereen sungkar dan Nia Ramadani hehe..
Sayang tidak ada keberanian buat foto bareng soalnya memang aturan untuk hal hal yang berhubungan antara laki dan perempuan disini sangat ketat tidak seperti di Indonesia. Alhasil hanya berani curi curi pandang dari kejauhan. Untungnya kali ini saya punya teman lokal yang mau mengantar kemanapun saya suka jadi agak terhibur bisa jalan jalan gak boring di hotel.
Setelah sebulan lebih tinggal di Karachi panggilan pulang tiba juga. Saatnya liburan yang sebenarnya datang. Hal pertama saya lakukan tentu saya reschedul tiket pulang saya. Setelah pikir sana sini akhirnya saya dapat 3 hari 2 malam stopover di Hongkong. Kali ini semua biaya jalan-jalan mesti dari saku sendiri tapi setidaknya hemat biaya tiket pesawat yang ditanggung oleh kantor. Hitung hitung kapan lagi bisa jalan dengan tiket gratis belum tentu next time saya bisa ke Hongkong lagi.
Yang bikin sebel kalo terbang dengan Cathay Pacific nyampe Hongkong jam 12 siang karena harus stopover di bangkok dulu. Padahal berangkat dari Karachi jam 12.30 malam. Gila hampir 12 jam waktu saya habis di pesawat. Kedepan kalo ada proyek ke Pakistan lagi saya ogah pake Cathay Pacific kelamaan mending pake Malaysia Air atau Thai Air yang lebih cepet.

Rencana perjalanan saya susun sedemikian rupa sehingga dalam waktu 3 hari saya bisa menjelajah Hongkong dan Macau. Lumayan setelah cari info di internet akomodasi dan biaya perjalanan sudah bisa saya perkirakan. So sekarang tinggal tunggu waktu untuk berlibur...ahh senangnya. Sori Pakistan negaramu masih jauh untuk industri wisata masih banyak PR untuk dikerjakan agar para turis dan kaum backpaker mau singgah di negaramu. Isu keamanan dan faktor pendukung investasi masih sangat kurang sehingga banyak orang berpikir 2x kalo berpergian ke Pakistan. Separah parahnya Indonesia ternyata ada yang lebih parah lagi huft I miss Indonesia.....!

Senin, 18 Oktober 2010

Indonesia Mask Festival


Festival Topeng Nusantara 2010 diselenggarakan pertama kalinya di Indonesia pada tanggal 16 October 2010 di Cirebon, Jawa Barat Festival ini akan mengangkat seni pertunjukan topeng, serta bertujuan mengenalkan kesenian topeng secara fisik maupun secara filosofis supaya tetap lestari sebagai budaya tradisi adiluhung bangsa Indonesia.Festival ini akan bersifat rutin dua tahunan dan diharapkan menjadi langkah awal usaha pengajuan Seni Topeng Nusantara kepada UNESCO, untuk mendapat pengakuan sebagai warisan budaya dunia yang harus dijaga kelestariannya.
Selain itu festival ini juga dimeriahkan oleh Keraton Kasepuhan dan Kanoman Cirebon dengan mengikut sertakan benda pusaka keraton. Tiga kereta sultan dan pedati keraton yang ada di Cirebon ikut Kirab Budaya Ciayumajakuning dalam rangkaian kegiatan Festival Topeng Nusantara 2010, Sabtu (16/10). Tiga kereta tersebut adalah Kereta Singa Barong dari Keraton Kasepuhan, Kereta Paksi Nagaliman dari Keraton Kanoman, dan Kereta Juru Mudi dari Keraton Kacirebonan.


Sedangkan sebuah pedati bernama Pedati Gede Pekalangan, adalah dari Keraton Kasepuhan, yang konon sering digunakan di zaman Sunan Gunung Jati untuk mengangkut kayu bahan baku pembangunan Masjid Sang Cipta Rasa, dan Keraton Kasepuhan yang biasa ditarik seekor kerbau dan dikemudikan Ki Gede Pekalangan.

Ketiga kereta dan pedati tersebut ditarik pasukan keraton yang dilengkapi dengan persenjataan lengkap seperti tombak, pedang dan tameng berjalan mulai dari Keraton Kasepuhan hingga Gedung Negara Kantor Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan (BKPP) Wilayah Cirebon yang jaraknya sekitar 4 Km.


Kemudian kirab juga dimeriahkan oleh berbagai atraksi kesenian daerah dari Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciayumajakuning) serta budaya tionghoa barongsai. Kirab yang rencananya bergerak pukul 07.30 WIB terpaksa mundur hingga pukul 09.00WIB karena tertunda akibat hujan deras yang mengguyur Kota Cirebon sejak subuh. Setelah hujan reda, iring-iringan kereta keraton pun berjalan menyusuri jalan utama Kota Cirebon. Dari Keraton Kasepuhan, kirab berjalan melalui jalan Merdeka kemudian menjemput rombongan barongsay dari Vihara Dewi Welas Asih di Jl Yos Sudharso.


Dilanjutkan ke Jl Pasuketan yang disambut dengan kesenian kuda ronggeng dari Kuningan. Arak-arakkan terus bergerak melalui Jalang Kanggraksan, Siliwangi dan berakhir di Gedung Negara. Salah satu ciri khas arak-arakan yang menghadirkan kereta dan prajurit keraton adalah sepanjang perjalanan seluruh peserta kirab membaca shalawat nabi yang diiringi musik genjring.

Setibanya di Gedung Negara, Kirab Budaya Ciayumajakuning disambut oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan sejumlah duta besar dari negara sahabat.

Di Gedung Negara upacara penyambutan pun digelar yang disambung dengan peresmian pembukaan acara Festival Topeng Nusantara 2010 oleh Gubenur Jawa Barat. Kemudian masyarakat dan tamu undangan yang hadir disuguhi dengan rampak tari Topeng Kelana yang dibawakan oleh puluhan penari dari beberapa sanggar tari di Cirebon dan beberapa tarian khas Cirebon lain.
Rencananya acara Pesta Rakyat dan Kuliner di Gedung Negara akan diselenggarakan hingga malam hari dengan menghadirkan sejumlah artis ibu kota dan lokal Cirebon seperti Iis Dahlia dan musik tarling Abdul Ajib. Sedangkan tamu undangan yang sebagian besar adalah duta besar negara sahabat, pada malam harinya akan menghadiri Pagelaran Festival Topeng Nusantara 2010 di Panggung Budaya Cilimus 1928, Resort Prima Sangkanurip, Kabupaten Kuningan.

Senin, 04 Oktober 2010

Jalan jalan Mudik 2010 (2)

Perjalanan mudik kali ini kami lanjutkan untuk menjelajahi wilayah timur propinsi Jatim. 3 hari setelah lebaran kami pun berangkat menuju Banyuwangi. Setelah menempuh perjalanan sekitar 5 jam kami pun sampai di kota banyuwangi. Setelah acara keluarga selesai akhirnya jalan jalan time telah tiba. Setelah cari informasi di hotel akhirnya mobil kami arahkan ke Watu Dodol. Setelah 5 km ke arah Situbondo kami sampai di sebuah gapura dengan patung Gandrung (Kesenian khas Banyuwangi) di atasnya. Deburan ombak dengan air laut yang bening, serta ada onggokan batu besar di tengah jalan. Itulah yang disebut Watu Dodol.
Konon menurut cerita yang berkembang di masyarakat setempat, nama “Watu Dodol” itu menceritakan asal muasal batu itu. Watu bahasa Jawa, dalam bahasa Indonesia Batu. Dodol, atau dalam masyarakat Using disebut Jenang. Konon Batu itu berasal dari jualannya Kyai Semar yang terjatuh di tempat itu. Sedang berasnya tumpah, menjadi pasir yang bersih di sekitar pantai watu dodol.
Terlepas dari cerita-cerita dibalik watu dodol, yang jelasan kawasan ini menawarkan keindahan alam. Kejernihan air laut, serta parorama batu karang yang bisa dilihat di Gardu Pandang di bukit sebelah kanan jalan. Bahkan seniman Banyuwangi saat itu, pernah mengabadikan kejernihan air laut watu dodol dalam bentuk lagu daerah Banyuwangi berjudul Padang Ulan.
Bagi pengunjung yang ingin menikmati debur ombak dan pemandangan di tengah laut disitu telah disediakan perahu wisata dengan biaya 5 ribu per orang. Menikmati keindahan pantai Watu Dodol dari tengah laut sungguh mengasyikkan. Debur ombak dari air laut yang bening dan pesona pulau Bali dari kejauhan sungguh pengalaman yang sangat mengesankan.

2. Pantai Pasir Putih Situbondo

Melanjutkan perjalanan kembali ke Madiun melalui jalur pantai utara Jawa Timur kami melewati kawasan wisata di daerah Situbondo yang bernama Pasir Putih. Tak menunggu lama mobil Great Corolla saya masukkan ke kawasan tersebut. Berhubung lebaran suasanan pantai pasir putih sangat ramai. Banyak pengunjung yang melewati pantai utara Jatim ini menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat ini.
Pantai Pasir Putih terkenal karena hamparan pasirnya yang putih. Tak hanya itu, morfologi pantai inipun terbilang unik.
Topografinya yang melengkung menghadap ke laut dengan latar belakang hutan membentuk gugusan panorama yang sangat indah. Ke arah utara, wisatawan dapat melihat luasnya laut utara Jawa dengan garis putih di pinggir pantai. Di belakangnya, rimbunan hutan menyajikan kesejukan tersendiri.
Pasir Putih merupakan salah satu tujuan wisata pantai andalan bagi Provinsi Jawa Timur. Hal ini karena letaknya yang strategis, yaitu di pinggiran jalan utama Surabaya-Banyuwangi. Wisatawan yang ingin menuju ke Bali (dari Surabaya), atau menuju Gunung Bromo (dari Banyuwangi), biasanya mampir untuk beristirahat dan menyaksikan keindahan panorama yang disuguhkan, terutama menikmati eloknya matahari terbenam.
Berbagai macam olahraga laut seperti berenang, menyelam, maupun berselancar dapat dilakukan di pantai ini. Jika enggan berenang, pengunjung dapat menaiki perahu untuk berlayar dan menikmati pemandangan bawah laut. Kamipun tak melewatkan untuk menikmati keindahan dasar laut dengan menggunakan perahu layar wisata. Dengan menyewa perahu layar sebesar 35 ribu sekali jalan kami dapat berlayar ke tengah laut dan melalui kotak kaca yang terdapat di perahu kita dapat melihat sekumpulan terumbu karang dan ikan didalamnya.
Anak saya pun tak tahan dengan beningnya air laut di pantai mereka menceburkan diri di laut dan berenang dengan gembiranya. Sebenarnya saya ingin juga berenang namun karena harus menjaga anak anak akhirnya saya pun ikut berbasah basah ria. Setelah kecapean berenang kami pun mencari makan siang di sekitar pantai. Tepat didepan pintu gerbang kami menikmati lezatnya ikan kerapu bakar dengan sambal terasi khas situbondo dan segarnya air kelapa muda. Hmm...sebuah kenangan indah yang tak terlupakan.